Peningkatan
Produktivitas Usaha Keripik Singkong Melalui Pelatihan dan Pendampingan
Teknologi Tepat Guna di Ketro Kabupaten Sragen
Oleh
: FAHRUDIN_41417110095
@S04_FAHRUDIN
Email
: fahrudinn45@gmail.com
Abstrak
Desa
Ketro Kecamatan Tanon Kabupaten Sragen adalah Desa dengan potensi wilayah
perkebunan yang luas dengan produksi singkong yang melimpah. Potensi tersebut
belum dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakatnya. Banyaknya masyarakat Desa
Ketro dengan usia produktif yang menganggur dan sedikitnya kelompok usaha
bersama merupakan penyumbang angka kemiskinan di Desa Ketro. Untuk itu perlu
dilakukan program pelatihan dan pendampingan kepada Kelompok usaha keripik
singkong di Desa Ketro. Kegiatan ini dibagi menjadi dua kegiatan. Kegiatan
pertama melakukan Focus Group Discussion (FGD) memberikan pengetahuan mengenai
standart kelengkapan produksi seperti No PIRT, keterampilan inovasi rasa dan
pengemasan yang baik. Hasil dari FGD diformulasikan menjadi agenda kegiatan.
Setelah mendapatkan hasil dari kegiatan FGD kemudian di aktualisasikan dengan
melakukan praktek pelatihan dan pendampingan pembuatan keripik singkong. Tim
pelaksana berusaha menciptakan suatu ide kreatif dan ide inovatif untuk
memberikan nilai tambah terhadap komoditas keripik singkong di Desa Sumber
Anyar. Salah satunya dengan mengubah cara produksi dengan menggunakan peralatan
teknologi tepat guna sehingga kapasitas produksi dapat meningkat.
PENDAHULUAN
Pemanfaatan
lahan oleh masyarakat Desa Ketro diantaranya Tanaman padi, jagung, ubi jalar,
ubi kayu dan kacang tanah. Beberapa home industry di Desa Ketro adalah sentra
usaha keripik singkong. Masyarakat Desa ketro memanfaatkan potensi desa
singkong yang melimpah tersebut dengan membuat usaha keripik singkong yang
dapat memberikan nilai tambah secara ekonomis. Singkong merupakan salah satu
produk pertanian yang bisa dijadikan unit bisnis, karena manfaat yang diperoleh
dari komoditas singkong cukup banyak salah satunya adalah dengan mengolah
singkong menjadi keripik karena pangsa pasar keripik masih sangat luas.
Selain
itu potensi Sumber daya manusia di Desa Sumber Anyar Kecamatan Maesan cukup
besar untuk memaksimalkan potensi sumber daya alam yang ada di desa tersebut.
Jumlah Penduduk di Desa Sumber Anyar Kecamatan Maesan sebanyak 6.183 yang
terdiri atas laki-laki sebanyak 2.872 orang dan perempuan 3.151 orang.
Berdasarkan data tersebut jumlah penduduk perempuan lebih banyak daripada
lakilaki. Ibu-ibu rumah tangga berpotensi untuk dapat membuka sentra usaha
keripik singkong guna menunjang pendapatan suaminya untuk memenuhi kebutuhan
rumah tangga.
Banyaknya
penduduk yang belum bekerja disebabkan karena rendah tingkat ketrampilan yang
mereka miliki karena disebabkan tingkat pendidikan yang rendah. Jumlah pemilik
usaha hanya sedikit yaitu 30 unit usaha seperti Home industry keripik singkong,
krupuk patollah, anyaman bambu dan lain-lain. Jumlah tersebut sangat kurang untuk
mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat. Rendahnya keterampilan yang
dimiliki masyarakat membuat masyarakat tersebut tidak dapat bekerja di tempat
yang lebih baik. Berdasarkan potensi wilayah yang sebagian besar adalah sawah
dan tegalan sebagian besar masyarakatnya menanam padi, tembakau, cabe dan
singkong. Potensi Sumber daya manusia yang sebagian besar penduduknya adalah
ibu-ibu rumah tangga menjadi salah satu modal pembentukan sentra keripik
singkong di Desa Ketro.
Berdasarkan
uraian tersebut diatas dapat dirumuskan beberapa permasalahan yang dihadapi
kelompok usaha keripik singkong di Desa Ketro Kecamatan Tanon Kabupaten Sragen
adalah sebagai berikut:
1. Terbatasnya
keterampilan mitra dalam inovasi rasa dan proses pengemasan yang baik
2. Terbatasnya
pengetahuan mengenai kelengkapan produksi seperti No PIRT
3. Belum menggunakan
teknologi tepat guna untuk menghasilkan keripik singkong yang berkualitas dan
menigkatkan produktivitas
4. Lemahnya kelompok
usaha bersama sehingga belum tercipta sentra keripik singkong di Desa Ketro.
5. Potensi wilayah di
bidang perkebunan yang belum dimanfaatkan secara optimal.
METODE
Untuk
mengatasi persoalan yang dihadapi oleh kedua mitra pelaku usaha keripik
singkong di Desa Sumber anyar, digunakan metode yang diuraikan dalam beberapa
tahapan yang meliputi Focus Group Discussion (FGD) dan pelatihan dan
pendampingan. Secara rinci, metode pelaksanaan yang digunakan adalah sebagai
berikut :
1. Focuss Group
Discusion (FGD) Sebelum kegiatan pembuatan keripik singkong terlebih dahulu
akan dilaksanakan Focuss Group Discusion (FGD). FGD ini dilakukan dengan tujuan
menjaring keinginan kedua mitra meliputi kendala-kendala secara lebih spesifik
dalam menjalankan usaha dan diskusi untuk mencari solusi yang ingin dipecahkan.
Metode ini dilakukan dengan menggunakan metode ceramah dan diskusi. Metode
Ceramah akan dilakukan oleh tim pengusul untuk memberikan pengetahuan kepada
kedua mitra mengenai inovasi rasa, pengetahuan mengenai kelengkapan produksi
seperti No PIRT, penggunaan tekhnologi tepat guna yaitu mesin pengiris singkong
otomatis dan memperluas pangsa pasar dengan menjalin kerjasama dengan toko oleh
oleh serta memanfaatkan tekhnologi informasi seperti online market.
2. Kegiatan pembuatan
keripik singkong Setelah dilakukan FGD, Hasil dari kegiatan FGD di tuangkan
dalam bentuk kegiatan pembuatan keripik singkong. Dalam pelatihan ini, Kedua
mitra akan dikenalkan pada tekhnologi tepat guna mesin pengiris singkong
otomatis skala industry dan cara penggunaan. Selain itu juga keterampilan
mengenai proses pengemasan yang baik termasuk membuat label produksi yang
dilengkapi No PIRT.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengusaha
Keripik Singkong rumah tangga di Desa Ketro Kecamatan Tanon pada awalnya banyak
mengalami permasalahan dalam menjalankan usahnya. Beberapa permasalahan
tersebut antara lain Kapasitas Produksi yang rendah, kualitas produksi yang
rendah, harga jual yang rendah dan pemasaran produk yang masih terbatas.
permasalahan-permasalahan tersebut membuat usaha keripik singkong tidak mampu
menopang kehidupan ekonomi. Permasalahan tersebut muncul karena selama ini
pengusaha keripik singkong rumah tangga memproduksi keripik singkong secara
manual dan konvensional. Pengusaha keripik singkong Desa Ketro hanya menjual
hasil keripiknya menggunakan pengemas plastik sederhana dan menjualnya ke
warung-warung kecil yang ada di Desa Ketro. Pengusaha keripik Singkong Rumah
tangga melakukan proses produksi dan pemasaran secara konvensional karena
keterbatasan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang dimiliki kedua posdaya
tersebut.
Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dalam
rangka memberikan solusi kreatif dan inovatif dalam memecahkan permasalahan
yang dihadapi kedua posdaya selama ini. Dalam kegiatan ini mitra akan diberikan
tekhnologi tepat guna, pelatihan dan pendampingan bagaimana memproduksi keripik
singkong yang berkualitas dan dikemas secara baik sehingga lebih tahan lama.
Kegiatan ini dilakukan melalui dua Kegiatan. Kegiatan pertama melakukan
pertemuan untuk melakukan Focus Group Discussion (FGD) untuk menggali
permasalahan yang ada di Desa Ketro dan kemudian memformulasikan menjadi agenda
kegiatan. Pertemuan kedua setelah mendapatkan hasil dari kegiatan FGD tersebut
kemudian di aktualisasikan dengan melakukan praktek pelatihan dan pendampingan
pembuatan keripik singkong dengan satu mitra usaha keripik singkong terpilih.
Dalam kegiatan pengabdian ini, tim pelaksana program berusaha menciptakan suatu
ide kreatif dan ide inovatif untuk memberikan nilai tambah terhadap komoditas
keripik singkong di Desa Ketro. Salah satunya dengan mengubah cara produksi
dengan menggunakan peralatan modern sehingga kapasitas produksi dapat
meningkat. Kemudian memasarkan keripik singkong dalam kemasan yang berkualitas
baik serta label yang menarik sehingga dapat meningkatkan harga jual keripik
singkong serta memperluas wilayah pemasarannya.
Hasil FGD Kelompok Usaha
Keripik Singkong
Kelompok
usaha keripik singkong di Desa Ketro ini melakukan beberapa tahapan selama
proses produksi keripik singkong mereka. Tahapan tersebut antara lain:
- Tahapan persiapan bahan
baku
a.
Ketersediaan bahan baku
b.
Bahan baku yang dibutuhkan
c.
Perlakuan atas bahan baku
- Tahap pengolahan
a.
Pemotongan/ pengirisan
b.
Pengolahan mutu rasa/ bumbu
c.
Tahap penggorengan
- Tahap pengemasan
a.
Bahan baku kemasan
b.
Merk
c.
Proses pengemasan
- Tahap pemasaran
a.
Model pemasaran, dan
b.Jangkauan
pemasaran
Untuk
perlakuan terhadap singkong yang sudah dipotong dan direndam kemudian langsung
digoreng dengan sebelumnya bumbu dimasukan ke dalam penggorengan. Setelah
digoreng, sebagian kelompok usaha keripik singkong ada yang memberi perlakuan
dengan cara menambahkan pewarna makanan, dan ada juga yang tidak memberikan
apapun. Hal ini bertujuan untuk menambah citra rasa keripik singkong yang
mereka jual. Dari semua jenis keripik singkong yang diberikan perlakuan seperti
di atas, keripik singkong dengan pewarna makanan jauh lebih cepat terjual
dibandingkan keripik yang hanya diberi perlakuan air gula.
Untuk
tahap pengolahan, yakni pada saat pemotongan/ pengirisan singkong membutuhkan
waktu yang lebih lama, karena pemotongan/ pengirisan singkong hanya dilakukan
secara manual/ tradisional, yaitu dengan menggunakan pasrat. Pemotongan/
pengirisan dengan menggunakan pasrat ini tidak bisa dilakukan secara cepat,
karena akan mengakibatkan jari terluka jika tidak berhati-hati. Kemudian pada
tahap pengolahan mutu rasa/ bumbu, hampir sebagian besar kelompok usaha keripik
singkong di Desa Ketro banyak yang memberikan penyedap makanan ke keripik
singkong yang telah mereka goreng. Penyedap makanan ini diberikan dengan cara
ditaburi di atas keripik yang sudah dimasukkan ke dalam dalam toples, lalu
ditutup dan dikocok sampai penyedap/ bumbunya merata. Kendala yang ditemukan
pada tahap pengolahan mutu rasa/ bumbu ini adalah bumbu yang tersedia di
kelompok usaha keripik singkong ini hanya bumbu balado, sementara bumbu rasa
lain seperti rasa berbeque dan lainlain susah untuk didapatkan. Hal ini
dikarenakan beraneka rasa bumbu tersebut hanya terdapat di pusat kota Kabupaten
Sragen, sehingga jarak tempuh yang mereka lalui untuk mendapatkan bumbu
tersebut sangat jauh dan lama.
Proses
yang dilakukan saat penggorengan adalah singkong dimasukkan ke dalam wajan yang
minyaknya sudah panas lalu diaduk agar tidak sampai hangus dan masaknya merata.
Untuk singkong yang sudah dibumbui dengan air gula, saat penggorengan keduanya
harus dipisah agar tidak lengket satu sama lain. Kendala yang ditemui saat
proses penggorengan ini adalah singkong yang direndam dengan air gula setelah
digoreng rasanya agak keras saat digigit.
Untuk
tahap pengemasan, bahan baku kemasan yang digunakan adalah bahan yang sederhana
dan gampang didapatkan yaitu plastik kecil ukuran 250 gram. Bahan baku untuk
proses pengemasan ini tersedia hampir di sebagian besar warung yang ada di
sekitar Desa Ketro. Untuk merk dagang usaha keripik singkong ini, sebagian
besar kelompok usaha keripik singkong di desa ini sudah memiliki merk, dan
hanya sebagian kecil yang belum menggunakan merk. Bagi kelompok usaha keripik
singkong yang belum memiliki Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), merk dagang
mereka sangat sederhana, yaitu cukup dengan nama dan alamat saja. Anggota
kelompok usaha keripik singkong yang sudah mempunyai SIUP hanya satu orang,
yaitu Pak Taufik. Belum mempunyai SIUP ini menjadi kendala tersendiri bagi
sebagian besar kelompok usaha keripik singkong di Desa Ketro, hal ini
dikarenakan keripik yang mereka jual belum mempunyai izin usaha resmi dari
pemerintahan. Sementara untuk proses pengemasan, hampir semua anggota kelompok
usaha keripik singkong di Desa Ketro menggunakan cara manual atau cara
tradisional. Cara yang dilakukan adalah keripik singkong hanya dibungkus
plastik ukuran kecil, kemudian dilipat dan dipanasi di atas lilin untuk
merekatkan bungkusan agar kedap udara. Belum adanya mesin pres-presan menjadi
kendala tersendiri saat proses pengemasan.
Pada
tahapan yang terakhir yaitu tahap pemasaran, model pemasaran yang dilakukan
oleh sebagian besar anggota kelompok usaha keripik singkong di Desa Ketro yaitu
hanya dengan mengantarkan sendiri dan menitipkan keripik singkong mereka di
warungwarung kecil. Hal ini mengakibatkan produksi keripik singkong oleh
kelompok usaha ini tidak berjalan tiap hari. Untuk jangkauan pemasaran, sebagian
besar anggota kelompok usaha keripik singkong ini hanya berani memasarkan
didaerah Tanon saja, dan itupun dimasukkan ke warung-warung atau sekolahsekolah
yang dekat dengan rumah mereka. Belum beraninya mereka memasarkan dalam skala
besar masih menjadi kendala utama bagi kelompok usaha keripik singkong ini
dalam hal jangkauan pemasaran.
Harga
keripik singkong yang dititipkan ke warung-warung atau sekolah-sekolah tersebut
mereka jual dengan harga yang cukup murah, yaitu Rp. 400 untuk kemasan 100 gram
dan Rp. 900 untuk kemasan 250 gram. Kemudian pemilik warung tersebut akan
menjual kembali dengan harga Rp. 500 per 100 gram dan Rp. 1.000 per 250 gram.
Frekuensi penitipan keripik singkong di warung-warung atau sekolah tersebut
adalah tiga hari sekali. Untuk sekali penitipan, jumlah keripik singkong yang
mereka titipkan adalah sebanyak 1 renteng yaitu sekitar 11 bungkus. Rata-rata
jumlah warung yang menjadi tempat penitipan keripik singkong mereka adalah
sebanyak 5 warung dan tiap hari selalu bergantian memasukkan keripik singkong.
Sebagian
dari anggota kelompok usaha keripik singkong tidak memiliki kebun singkong
sendiri, sehingga mereka selalu harus beli bahan baku singkong tersebut.
Kualitas singkong yang mereka beli masih belum sebagus kualitas singkong yang
berasal dari Kabupaten Sragen. Singkong yang mereka jadikan sebagai bahan baku
tergolong keras dan susah untuk dikelola menjadi keripik. Hampir sebagian besar
anggota kelompok usaha keripik singkong di desa ini belum pernah mendapatkan
singkong yang sesuai harapan, dan sering menggunakan bahan perenyah. Hal ini
menyebabkan untuk pemasaran keripik singkong ini menjadi terbatas dan kalah
saing dengan keripik singkong yang berasal dari Sragen.
Pelatihan dan
Pendampingan Kelompok Usaha Keripik Singkong
Usaha
keripik singkong adalah usaha keripik singkong yang kami pilih sebagai mitra
pelatihan dan pedampingan pembuatan keripik singkong. Dimana tahap pelatihan
dan pendampingan pembuatan keripik singkong diawali dengan menyiapkan semua
bahan dan bumbu untuk membuat keripik singkong. Bahan utama yang akan dipakai
adalah singkong. Memilih Singkong yang masih segar. Singkong segar memiliki
ciri; tanah masih menempel pada kulitnya, pada bagian pangkal umbi masih
terlihat putih dan tidak ada garis-garis biru kehitaman. Hindari membeli umbi
singkong yang berkulit kusam, layu, pada pangkal sudah terlihat biru
kehitam-hitaman.
Singkong
dikupas kemudian di cuci bersih. Singkong dirajang Mesin Perajang Singkong
otomastis untuk mendapatkan ukuran seragam dan tipis dan tidak lagi menggunakan
pasrat. Tingkat ketebalan potongan singkong tidak boleh terlalu tebal ataupun
terlalu tipis. Biasanya dalam proses pemotongan singkong manual dilakukan
dengan menggunakan pasrat, dimana ketebalan potongan singkong tidak bisa disamaratakan
dan membutuhkan waktu yang sangat lama dalam proses pemotongan singkong yang
berimbas pada jumlah produksi keripik singkong layak jual juga kurang optimal
atau dapat dikatakan dalam proses penyortiran kripik singkong yang layak jual
masih ditemukan keripik singkong yang tidak layak jual dengan jumlah cukup
besar, sehingga perlunya alat bantu berupa alat pemotong singkong untuk
meminimalisir hal tersebut dan efisiensi waktu.
Singkong
selanjutnya digoreng dengan api kecil sampai setengah matang kemudian
melanjutkan menggoreng singkong dengan panas yang maksimal sampai kering.
Keripik yang sudah matang selanjutnya ditiriskan minyaknya dengan menggunakan
mesin peniris sampai tidak ada minyak yang menempel pada keripik. Setelah ditiriskan
maka keripik singkong dapat diberi bumbu sesuai dengan variant rasa yang akan
dibuat. Keripik yang sudah diberi bumbu kemudian ditimbang sesuai dengan berat
yang diinginkan menggunakan mesin timbang. Setelah ditimbang, Singkong kemudian
dimasukkan dalam plastik kemasan yang telah diberi label atau merk pada
kemasannya.
Untuk
membuat keripik singkong yang empuk, merebus irisan singkong dengan panci
presto atau cukup merebus dengan air mendidih. Kemudian, biarkan hingga dingin.
Irisan singkong digoreng dengan menggunakan api besar. Perbandingan terbaik
untuk menggoreng antara minyak dan singkong adalah 3:1. Hasil pembuatan keripik
bisa dibilang sempurna, jika pencampuran bumbu dan singkong tidak tampak basah.
KESIMPULAN
Usaha
keripik singkong sebagai mitra percontohan belum pernah melabeli kripiknya atau
mengurus Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) karena skala usahanya yang masih
door to door atau dari warung ke warung. Sehingga saha keripik singkong perlu
duberikan bantuan untuk memiliki label dan desain pembungkus keripik singkong
yang lebih modern dan menarik untuk dijual. Sehingga Usaha keripik singkong
bisa jauh lebih berkembang dari sebelumnya. Kegiatan diversifikasi komoditas
singkong memaksimalkan hasil pertanian yang merupakan salah satu komoditas yang
unggul di lokasi kegiatan pengabdian masyarakat dan diharapkan dapat
meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. Kegiatan tersebut mendapatkan
respon yang cukup positif dari masyarakat dan pemangku kepentingan dan ke depan
bisa diberikan tindak lanjut.
DAFTAR PUSTAKA
Amzeri, A. 2016. Profil
Pengembangan Jagung Madura. Penerbit: UTM Press.
Casson, M. 2012.
Entrepreneurship: Teori, Jejaring, Sejarah. Terjemahan. Penerbit: Rajawali
Pers.
Efendy, M. 2012. Garam
Rakyat: Potensi dan Permasalahan. Penerbit; UTM Press.
Rahayuningsih, E.S. 2016.
Profil Ubi Kayu. Penerbit: UTM Press.
----------------------------. 2016. Profil
Tenaga Kerja Madura. Penerbit: UTM Press.
Saputro, S.D. 2016.
Profil Pendidikan Madura. Penerbit: UTM Press.
